Pro Kontra Komentar Netizen tentang Dunia Pesantren
Diantara segala komentar negatif tentang pondok pesantren, keyakinan tetap melekat pada diri santri bahwa barokah guru itu seperti angin, tidak terlihat namun bisa dirasakan. Pesantren merupakan tempat terbaik untuk mencari ilmu, membentuk akhlak dan melatih kemandirian. Bagi saya, pandangan terkait apa yang terjadi bisa berbeda tergantung sudut pandang masing-masing. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk saling menghargai perbedaan tersebut dan memahami bahwa setiap pengalaman membawa pelajaran yang berharga. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Asy-Syura [42]:30,
وَمَآ أَصٰبَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri”. (Q.S. Asy-Syura Ayat 30)
Semual hal-hal buruk yang menimpa manusia itu karena kesembronoan dan kekeliruan manusia itu sendiri. Oleh karena itu, setiap perbuatan yang dilakukan oleh manusia harus disertai dengan muhasabah diri supaya manusia menyadari bahwa semua perbuatannya tidak selalu benar dan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah di hari kiamat. Ketika kita melihat cuplikan video di media sosial betapa banyak sekali komentar yang sangat pedas dan menyayat hati seperti “Pondok pesantren gak ada gunanya, tutup saja semuanya”. Tayangan Trans7 yang dianggap menghina Kiai dan pesantren sangat melukai hati para santri dan umat Islam. Ditambahkan beberapa komentar netizen yang menghina dan memojokkan pesantren yang seakan-akan mereka paling mengetahui adab dan benar dalam segala hal. Adapun tradisi memberi hadiah kepada Kiai bukan perbudakan, tapi bentuk penghormatan dan rasa terima kasih yang tulus. Memuliakan ulama adalah ajaran agama, bukan sekedar budaya pesantren. Untuk kedepannya media agar lebih bijak dan mendalam dalam memberitakan dunia pesantren agar tidak menyesatkan publik dan mencederai kehormatan para ulama.
Banyaknya komentar negatif yang dilayangkan netizen di berbagai media sosial itu mungkin komentar dari netizen yang kebetulan memang bukan santri atau dia belum mampu menemukan apa sebenarnya manfaatnya menjadi santri? apa pentingnya pesantren? mungkin mereka dari golongan yang dari awal tidak suka dengan pesantren. Menjadi netizen receh dengan memberikan komentar tidak suka itu sudah menjadi hal yang bebas, seperti halnya orang suka itu cara memujinya juga bebas. Oleh karena itu, sebagai orang Islam jangan mudah dipecah belah dan ditakut-takuti. Saat ini dunia pesantren digempur habis-habisan dengan adanya komentar di media sosial yang mengatakan jangan mondok, santri itu feodalisme, dan diperbudak. Mereka yang mengatakan hal itu, mencoba mengurangi minat masyarakat untuk memondokan anaknya di pesantren. Dalam kitabnya Talbis Iblis, Imam Ibnu Jauzi mengatakan:
نُوَّابُ إِبْلِيسَ فِي الْأَرْضِ هُمُ الَّذِينَ يُثَبِّطُونَ النَّاسَ عَنْ طَلَبِ الْعِلْمِ وَالتَّفَقُّهِ فِي الدِّينِ
Wakil-wakil Iblis di muka bumi adalah orang-orang yang menghalangi manusia dari menuntut ilmu dan mendalami agama.
Bala tentaranya iblis dibumi ini yaitu orang-orang yang mencoba mengurangi minat masyarakat untuk memperdalam urusan agama. Seburuk-buruknya pondok yang ada kasus-kasus yang terjadi itu, dibandingkan dengan beberapa perbuatan yang bermanfaat hanya beberapa persen saja pondok yang memiliki kasus yang tidak baik. Pondok yang berhasil melahirkan orang-orang yang bermanfaat ditengah-tengah masyarakat dari ribuan bahkan ratusan perantauan di Indonesia yang memiliki kasus hanya sedikit saja. Oknum yang bermasalah di berbagai lembaga itu pasti ada, tidak perlu adanya penyudutan sehingga memunculkan permusuhan. Berkembangnya teknologi di zaman yang serba digital ini bisa memberi manfaat dan menjadikan mudharat tergantung yang menggunakan media sosial tersebut. Komentar negatif netizen itu hanya untuk mengurangi minat masyarakat untuk mencari ilmu di pondok pesantren dan adanya rasa hasud muncul karena melihat pondok pesantren yang semakin berkembang pesat. Tetapi hal ini memang sering terjadi, karena sesungguhnya telah dikatakan:
الْإِنْسَانُ عَدُوٌّ لِمَا يَجْهَلُ
“Manusia adalah musuh terhadap apa yang tidak ia ketahui.”
Oleh sebab itu, ketidaktahuan seringkali menimbulkan sikap menolak atau menghindar terhadap hal-hal yang sebenarnya bermanfaat.
Melihat kalam hikmah diatas, menjadi hal yang wajar kalau mereka berkomentar menjelekkan pesantren, karna mereka tidak tahu-menahu tentang sejarah dan kehidupan pesantren. Komentar negatif tersebut tidak perlu digubris terlalu dalam. Herannya, mengaku islam tapi ikut mengolok-olok gurunya, kiainya, atau ulamanya?. Ketika kiainya lagi susah terkena cobaan dan kita tidak bisa membantu, alangkah baiknya tidak usah banyak komentar bahkan sampai menjelek-jelekkan. Permasalahannya bukan perkara baik atau tidak, tetapi sebagai orang Islam harus mengetahui bahwa cobaan itu pasti datang bukan hanya kepada orang yang buruk saja, tetapi juga bagi orang yang beriman. tidak ada yg mau mendapatkan cobaan, apalagi ini banyak yang menghujat kyai. Manusia akan diuji sesuai dengan kadar keimanan dan agamanya. Apabila agamanya kuat, maka ujiannya pun akan lebih besar. Seseorang yang mendapatkan cobaan berat sebenarnya adalah tanda bahwa imannya sudah mantap dan derajatnya semakin tinggi. Semakin berat cobaan yang diterima, semakin meningkat pula kedudukannya di sisi Allah.
Dalam pembelajaran Ma’had, Ustadz Faisal menjelaskan dalam kitab Adab Thalibin Materi Dhorar bahwa cobaan dan ujian adalah sarana pengangkat derajat seorang hamba. Ustadz Faisal menekankan bahwa kesabaran dan keteguhan dalam menghadapi ujian merupakan tanda kekuatan iman, dan sikap menghormati para ulama adalah bagian penting dari menjaga kesucian ilmu dan keberkahan umat. Yang dimaksud dengan dhorar yaitu kebaikan untuk dirinya sendiri akan tetapi dapat merugikan orang lain. Menurut saya, pandangan ini sangat relevan dalam konteks masa kini, di mana seringkali kritik atau komentar terhadap tokoh agama diantaranya yaitu Kiai muncul, tanpa memahami makna ujian dan kedudukan mereka di mata Allah. “Menghormati ulama adalah kunci keberlangsungan ilmu dan menjaga ukhuwah di tengah masyarakat.”
Oleh karena itu, kita harus berhati-hati ketika mengkritik atau menghujat para kiai dan ulama, karena sebagaimana Allah berfirman dalam hadis qudsi:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: إِنَّ اللهَ تَعَالَى قَالَ: مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ
“Dari Abu Hurairah –semoga Allah meridhainya- ia berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman: Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, Aku umumkan perang terhadapnya”.
Ketika dunia pesantren dituduh melakukan perbudakan atau feodalisme, maka orang yang mengatakan hal itu perlu dipertanyakan, berapa banyak, buku yang telah dibacanya? atau malah tidak ada bacaan sama sekali. Coba fikirkan lagi, apakah pantas dikatakan bahwa di pondok pesantren melakukan sistem perbudakan?. Padahal pondok pesantren telah melahirkan tokoh-tokoh nasional seperti halnya kiai Wahid Hasyim, gus dur, gus mus, dan yang lainnya. Hormat dateng guru itu merupakan siklus di dalam pesantren. Seorang kiai yang sekarang sudah mempunyai pondok pesantren dan santri yang banyak, dulunya juga sama menghormati gurunya. Dan sekarang, ketika sudah menjadi kiai yang terkenal, menjadi seorang guru, beliau juga dihormati oleh santrinya.
Penulis : Rinata Septiyaningrum
Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya
